SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN (SESAMA MANUSIA)

Jumat, 13 September 2013

MAGANG PKU VII PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH




LAPORAN MAGANG

PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH

KP. BANTAR KARET II DESA SITU ILIR

KECAMATAN CIBUNGBULANG
KABUPATEN BOGOR

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Perkuliahan
Pendidikan Kader Ulama (PKU) Angkatan VII





Disusun Oleh :
Badrussalam Muchtar, S. Pd.I
Utusan : Mathla’ul Anwar


LEMBAGA PENGKAJIAN KEAGAMAAN DAN PEMBERDAYAAN UMMAT (LPKPU)                       
PENDIDIKAN KADER ULAMA (PKU) ANGKATAN VII

MAJELIS ULAMA INDONESIA KABUPATEN BOGOR      
Gedung MUI Kabupaten Bogor jalan Bersih No 1 Komplek Pemda Kabupaten Bogor telp/Fax : (021) 87913918 www.mui-bogor.org

DAFTAR ISI

Daftar Isi

..................................
i





A.    PENDAHULUAN
..................................
1

B.     SEJARAH PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH
..................................
2

C.     STRUKTUR PENGURUS
..................................
4

D.    ANALISIS PENILITIAN SWOT
..................................
9

1.      Strenght (Kekuatan/Potensi)
..................................
4

2.      Weaknesses  (Kelemahan/Kekurangan)
..................................
5

3.      Opportunities (Peluang/Kesempatan)
..................................
5

4.      Threats (Ancaman)
..................................
5

E.     PENUTUP
..................................
6

F.      SARAN
..................................
7

G.    DOKUMENTASI/FOTO-FOTO
..................................
7

 


PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH
DESA SITU ILIR II KEC. CIBUNGBULANG KAB. BOGOR


A.    PENDAHULUAN

Pada dasarnya semua lembaga pendidikan ingin memberikan dan menghasilkan output yang positif kepada masyarakat luas, sehingga lahirlah para generasi yang berdaya guna, tepat guna, menjadikan panutan bagi ummat, serta mampu bersaing di zaman globalisasi ini baik nasional maupun internasional.
Pondok Pesantren adalah sebagian contoh dari lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dengan menggunakan metode atau kurikulum sendiri (habitat curiculum) yang turun temurun selalu dan berpegang kepada para ulama terdahulu dalam segi penyampaian materi. Pondok Pesantren salafiyah yang masih kental keberadaannya dengan gaya mandiri dan prihatin dalam kehidupan para santri di Pondok menjadikan suatu ciri khas yang tidak tergantikan, dan tidak dapat dilupakan oleh para santri sampai mereka menjadi orang yang berguna bagi masyarakat luas (bilanglah telah menjadi kiyai, pendakwah, mubaligh dan lainnya).
Beda hal dengan Pondok Pesantren yang semi modern sampai kepada modern sekarang ini, karena dari segi pembelajaran atau kurikulum sudah berbeda, dan dari kemandirian, keprihatinan di nilai jauh dari pondok pesantren salafiyah. Maka jelaslah pada output yang dihasilkannya berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, maka dari proseslah yang menjadikan semuanya berbeda, dan proses jugalah yang menentukan tujuan akhir yang diharapkan, sehingga akan terasa setelah proses itu berakhir dari suatu tujuan.
Pada dewasa ini, Pondok Pesantren Salafiyah (bale rombeng) sudah sedikit sekali peminatnya atau yang menjadi santrinya, dikarenakan banyak faktor dalam hal ini, baik dari faktor anak itu sendiri, orang tua, lingkungan masyarakat, sampai kepada perkembangan zaman yang semakin pesat, menjadikan suatu ganjalan atau alasan kenapa pondok pesantren salafiyah sedikit sekali peminatnya.
Maka dari semua itu, penulis akan mengangkat suatu pondok pesantren salafiyah yang menjadikan tolak ukur bagi pondok pesantren yang lain, sehingga pondok pesantren salafiyah pada dewasa ini diminati lagi oleh masyarakat luas, tidak hanya sekolah saja yang dapat ijazah, akan tetapi sadar juga akan pentingnya proses pembelajaran di pondok pesantren salafiyah ini, dalam menguji mentalitas kemandirian dan keprihatinan, serta penguasaan keilmuan di bidang agama untuk menyongsong tantangan zaman yang semakin berat dan semakin kompleks.

B.     SEJARAH PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH

Sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Assyarofah berdiri pada tahun 2008, dirintis oleh Kiyai Afif Puddin  kelahiran Bogor, tahun 1972, beliau belajar ilmu agama mulai dari ayahandanya selama 6 tahun lamanya, melanjutkan ke pon-pes Al-Jazirh Pimpinan KH. Ruslan di Sifak Jasinga selama 2 tahun, melanjutkan ke Al-Hidayah Pimpinan KH. Zaenal Abidin di Sukabumi selama 2 tahun, melanjutkan lagi ke Bintan  Pimpinan KH. Mudrikah di Sukabumi selama 2 tahun, serta pernah riyadoh di Cianjur Pimpinan KH. Opan. Selain belajar di non formal (pondok pesantren), beliau juga pernah mengenyam pendidikan formal dari MI, MTs dan MA. Beliau adalah putra kelima dari KH. Memed Masduki (Mama Memed) pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Al-Hidayah, yang beralamat di Sindang Barang Selahuni Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor.
Kiyai Afif Puddin sebelum mendirikan pondok pesantren beliau adalah salah satu guru di pondok pesantren Al-Hidayah peninggalah ayahandanya. Setelah lama menjadi guru di pondok pesantren Al-Hidayah, maka beliau pindah rumah bersama istrinya ke Desa Situ Ilir Kecamatan Cibungbulang untuk menyebarkan ajaran agama Islam, meneruskan perjuangan rasulullah SAW.
Setelah kurang lebih setengah tahun berumah tangga maka beliau ingin mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren, maka tercaapailah keinginannya itu untuk mendirikan suatu pondok pesantren walaupun tanah yang akan dibangun pondok pesantren itu pada awalnya adalah pinjaman ketua RT di desa itu, maka berdirilah pondok pesantren panggung terbuat dari bilik, mushala berikut majlis dan kamar mandi  yang masih banyak kekurangannya, karena biaya pembangunan itu adalah hanya dari donatur tidak ada bantuan dari pemerintah baik setempat ataupun pusat, tetapi beliau menuturkan “yang penting ada buat tidur santri, dan terlindungi dari hujan panas dan tentunya bisa mengaji dengan khusu”, walaupun rumah beliau tidak disitu, karena antara rumah dan pondok pesantren berjarak kurang lebih 200 meter, beliau bulak-balik untuk mengajar ngaji dari mulai pagi, siang, sore dan malam hari, beliau tidak surut semangat justru menambah semangat dari ruhul jihad yang membara. Pada waktu itu santri dari masyarakat sekitar “santri kalong” putra dan putri yang berjumlah kurang lebih 10-15 santri.
Kemudian setelah berdirinya bangunan pondokan untuk santri, maka terbesitlah suatu nama untuk pondok pesantren beliau “Assyarofah”, kata assyarofah memiliki filosofi tersendiri, karena beliau tabarrukan kepada ibundanya yang bernama Ustjh. Hj. Syarofah, maka dinamainya pondok pesantren Assyarofah.
Setahun kemudian rumah beliau dijual, dan akhirnya tanah pondok pesantren bisa dibeli dan menjadi hak milik pribadi, serta beliau membangun rumah didekat pondoknya walaupun rumahnya sederhana. Waktu berlalu dari hari, minggu, bulan hingga tahun maka pondok pesantren mulai mengembangkan pembangunannya dengan yang permanen khusus untuk santri putri, dan majlis, itupun dana dari donatur sampai kantong pribadinya. Dengan pengorbanan beliau dengan hati yang ikhlas dan ruhul jihadnya maka berdirilah  3 lokal gedung untuk ditempati santr putri, mushala.
Berjalan waktu dari 2008 – 2013, santri mulai bertambah dan mulai ada berdatangan dari jauh seperti dari cikaret, ciawi, cisarua dan sekitarnya, semua santri berjumlah kurang lebih 46, terdiri dari 30 santri putra, dan 16 santri putri. Luas semua bangunan yang ada di pondok pesantren kurang lebih 2000 meter. Dan sekarang beliau sedang melaksanakan pembangunan mushala permanen dari seorang donatur, serta beliau berharap agar pemerintah pusat dapat lebih memperhatikan pondok pesantren salafiyah baik dari segi sarana prasarana, infrastruktur dan bantuan dana untuk kegiatan pondok pesantren (Bantuan Operasional Pondok/BOP).

C.    STRUKTUR PENGURUS / KEPENGURUSAN PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH

1.      Pelindung                                     : Kepala Desa Situ Ilir
2.      Penasehat                                     : KH. Tb. Ali Abdul Barry Assyauqi
3.      PimpinanPon-Pes                         : K. Afif Puddin
4.      Sekretaris                                     : Ustjh. Elly
5.      Bendahara                                    : Ust. Abdul Basit

D.    ANALISIS SWOT PONDOK PESANTREN ASSYAROFAH

1.      Strenghts (Kekuatan/potensi)
Pondok Pesantren Assyarofah memiliiki kekuatan/potensi diantaranya :
a.       Eksistensi Pondok Pesantren Salafiyah adalah warisan leluhur para ulama terdahulu dengan metode yang berbeda, baik dari kurikulum dan segi pengajaran, lebih mengedepankan kesadaran, kemandirian dan keprihatinan.
b.      Pondok Pesantren Assyarofah memiliki pembelajaran untuk jiwa atau disebut dengan riyadoh (latihan diri, jiwa raga) dengan berpuasa di bulan maulid selama 40 hari dengan tujuan agar santri dapat melatih kesabaran, kemandirian, kedisiplinan, lebih mengerti tentang makna kehidupan, dan sebagainya, terutama lebih dapat taqarrub dengan Allah SWT karena selain puasa ada juga aurad (wiridan).
c.       Adanya majlis dzikir untuk para santri khususnya, umumnya bagi masyarakat sekitar.
d.      Mempunyai kesenian Islami seperti marawis, hadroh, qosidah dan isim tuduror untuk acara-acara dimasyarakat, dan untuk diikuti dalam event-event perlombaan.
e.       Penggemblengan skill atau mental seperti muhadorohan, mudzakarah, berternak kambing, dengan tujuan untuk lebih menggali kepribadian santri dalam kehidupan di masyarakat nantinya.
f.       Kegiatan atau event seperti sunatan masal, pasar murah adalah salah satu bentuk sosial kemasyarakatan yang di selenggarakan oleh Pondok Pesantren Assyarofah
2.      Weaknesses (kelemahan/kekurangan)
a.       Pondok Pesantren Assyarofah belum memiliki sarana dan prasarana serta infrastruktur yang maksimal untuk kegiatan belajar mengajar atau pengajian serta kegiatan lainnya seperti belum adanya pembelajaran skill di bidang teknolgi dan informasi, bahasa dan lainnya.
b.      Perhatian dari pemerintah baik setempat ataupun pusat belum maksimal, dan bisa dibilang belum ada sampai sekarang.
c.       Rata-rata santri yang ada adalah bagian dari keluarga tidak mampu, yang perlu diperhatikan keberadaannya.

3.      Opportunities (Peluang/Kesempatan)
a.       Lahan atau tanah masih luas untuk pelebaran asrama/pondokan santri dan untuk mendirikan madrasah/sekolah dari tingkat dasar sampai ke tingkat menengah atas, karena posisi Pondok Pesantren serta masyarakat jauh jaraknya ke lembaga pendidikan formal (sekolah).
b.      Potensi anak didik masih banyak untuk lebih diserap oleh pondok pesantren dilingkungan Desa Situ Ilir khususnya di Kp. Bantar Karet Kulon.
c.       Lebih mengoptimalkan kegiatan dan menunjukan kepada masyarakat luas bahwa pondok pesantren salafiyah mampu bersaing dengan modern, karena melihat dewasa ini banyak sekali pondok pesantren salafiyah yang sedikit santri sampai hanya tinggal bangunan saja.
4.      Threats ( Ancaman)
a.       Kesadaran masyarakat untuk Ilmu Agama mulai pudar, masyarakat lebih mementingkan keilmuan dunia (yang berijazah) untuk dapat bekerja dan lain sebagainya.
b.      Mulai hilang rasa ruhul tholab pada hati remaja dewasa ini, mereka lebih mengedepankan hawa nafsu, ego, gengsi, dan lainnya dalam pergaulan sehari-hari.
c.       Perkembangan zaman merubah paradigma orang tua,anak-anak, sampai kepada kalangan agamis yang seakan-akan mereka tidak akan mati, dan mereka lupa, tidak sadar untuk kembali ke jalan syariat Agama Islam, karena hubbuddunya nya yang menguasai jiwa ruhnya.
d.      Adanya sebagian masyarakat, kelompok atau organisasi yang tidak paham menganggap pondok pesantren salafiyah adalah sarang teroris

E.     PENUTUP/ KESIMPULAN

Melatar belakangi dari analisis SWOT diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan pemecahan masalah problem solving  diantaranya :
a.       Mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada, untuk menunjang kegiatan pembelajaran atau pengajian dalam menggapai tujuan akhir dari mutu santri yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
b.      Melalui aparatur desa dalam hal ini Kepala Desa untuk bisa menjembatani ke pemerintah pusat untuk perhatian secara moril atau materil semaksimal mungkin demi terwujudnya cita-cita pondok pesantren yang selama ini menjadi angan-angan belaka.
c.       Mengadakan event atau kegiatan seperti yang sudah berjalan seperti milad pondok pesantren, pasar murah, sunatan masal untuk mengkemas agar masyarakat terbuka hatinya, sadar akan pentingnya Ilmu Agama yang mendasari dari segala ilmu yang ada di muka bumi ini.
d.      Kegiatan yang sudah berjalan agar sebisa mungkin ditingkatkan dan ditularkan untuk kegiatan lainnya yang masih maju ditempat.
e.       Mengoptimalkan kordinasi dan informasi antara masing-masing pengurus dengan para aparatur pemerintah, lembaga pendidikan yang lain, untuk kerjasama baik dibidang pendidikan yang formal, maupun dibidang lainnya.
F.     SARAN

Saran untuk secara edukatif dan manajemen pengembangan diharapkan Pondok Pesantren agar dapat menggandeng atau mengikat suatu kerja sama baik dengan lembaga terkait, dalam mewujudkan cita-cita yang selama ini belum terlaksana, sehingga permasalahan yang sifatnya urgen dapat terselesaikan dengan efektif dan efisien.
Selanjutnya kepada pemerintah baik setempat maupun pusat agar lebih mendahulukan kepentingan untuk ummat, khususnya kepada  lembaga yang berkecimpung secara terus-menerus, turun-temurun dari para ulama terdahulu dengan metode tradisional agar dapat selamanya dipertahankan eksistensinya di zaman globalisasi ini, dalam mencetak kader penerus bangsa yang berilmu, berakhlak, berwawasan, dan seorang pemimpin sejati yang sesuai dengan ajaran syariat Islam demi terwujudnya baldatun thayyibatun warabbun ghafuur.
1.       

G.    DOKUMENTASI /FOTO-FOTO
Plang Nama Pondok Pesantren Assyarofah
Obrolan dengan santri di waktu istirahat pembangunan Mushala



Proses Wawancara dengan Pimpinan Pon-Pes

Proses Wawancara dengan Pimpinan Pon-Pes



                                                                                                                                     

Proses pembangunan Mushala, baru pembangunan pondasi


Pondokan Putra tampak samping kiri
Pondokan santri putri tampak depan
Jalan yang menghubungkan antara kamar pondokan santri putra

Proses pembangunan Mushala, baru pembangunan pondasi
Santri sedang bekerja proses pembangunan Mushala
Pondokan Putra tampak samping kanan

 










                                                                                                              

Majlis Pon-Pes tampak samping kiri
Majlis Pon-Pes Assyarofah tampak depan

Kamar Mandi Putra